Wednesday, October 26, 2011

KALIMAT EFEKTIF


1.      Pendahuluan
Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan, atau perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik disebut dengan kalimat efektif.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan tetapi, kadang-kadang harapan itu tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan bicara atau pembaca tidak memahami apa maksud yang diucapkan atau yang dituliskan.
Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah (Mustakim, 1994:86).
2.      Pengertian
Sebelum dapat membuat atau bahkan membetulkan suatu kalimat menjadi efektif, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu dipakai untuk menyampaikan informasi dari pembicara atau penulis kepada lawan bicara atau pembaca secara tepat. Ketepatan dalam penyampaian informasi akan membuahkan hasil, yaitu adanya kepahaman lawan bicara atau pembaca terhadap isi kalimat atau tuturan yang disampaikan. Lawan bicara atau pembaca tidak akan bisa menjawab, melaksanakan, atau menghayati setiap kalimat atau tuturan itu sebelum mereka dapat memahami benar isi kalimat atau tuturan tersebut.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya seacara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar atau pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan tetapi, kadang-kadang harapan itu tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan bicara atau pembaca tidak memahami apa maksud yang diucapkan ata yang dituliskan. Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknta, unsur-unsur yang seharusnya tidak ada tidak perlu di munculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah.
Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. Untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik, yaitu strukturnya benar, pilihan katanya tepat, hubungan antarbagiannya logis, dan ejaannya pun harus benar.
Dalam hal ini hendaknya dipahami pula bahwa situasi terjadinya komunikasi juga sangat berpengaruh. Kalimat yang dipandang cukup efektif dalam pergaulan, belum tentu dipandang efektif jika dipakai dalam situasi resmi, demikian pula sebaliknya. Misalnya kalimat yang diucapkan kepada tukang becak, “Berapa, Bang, ke pasar Rebo?”  Kalimat tersebut jelas lebih efektif daripada kalimat lengkap, “Berapa saya harus membayar, Bang, bila saya menumpang becak Abang ke pasar Rebo?”.
Sebuah kalimat efektif mempunyai ciri-ciri khas, yaitu kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa.


A.     Kesepadanan
Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti tercantum di bawah ini.

1.      Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek. Contohnya adalah “Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. Sedangkan yang benar adalah “Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah”.
2.      Tidak terdapat subjek yang ganda.
Contohnya adalah “Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen. Sedangkan yang benar adalah “Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen”. Dan contoh lainnya adalah “Saat itu saya kurang jelas”, Sedangkan yang benar adalah “Saat itu bagi saya kurang jelas”.
3.      Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contohnya adalah “Kami datang agak terlambat, sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama”. Sedangkan yang benar adalah “Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama” atau juga bisa “Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama”. Dan contoh lainnya adalah “Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki”. Sedangkan yang benar adalah “Kakaknya membeli sepeda motor Honda, sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki”. Atau juga bisa “Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki”.
4.      Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contohnya adalah “Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu”. Sedangkan yang benar adalah “Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu”. Dan contoh lainnya adalah “Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting”. Sedangkan yang benar adalah “Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting”.


B.     Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Contohnya adalah “Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes”. Atau bisa juga contoh seperti ini, “Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang”.
Kalimat a tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu. “Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes”.
Kalimat b tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.


C.     Ketegasan
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.
1.      Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contohnya adalah “Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya”. Penekanannya ialah presiden mengharapkan. Contoh, “Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya”. Penekanannya “Harapan presiden”. Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.
2.      Membuat urutan kata yang bertahap.
Contohnya adalah “Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar”. Seharusnya, “Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar”.
3.      Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contohnya adalah “Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka”.
4.      Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contohnya adalah “Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur”.
5.      Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contohnya adalah “Saudaralah yang bertanggung jawab”.
D.    Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Penghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.

Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
1.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek. Perhatikan contoh, “Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu”. Atau bisa juga, “Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang”.
Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut. “Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu”. Dan “Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang”.
2.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata. Kata merah sudah mencakupi kata warna. Kata pipit sudah mencakupi kata burung.
Perhatikan contoh, “Ia memakai baju warna merah. Atau “Di mana engkau menangkap burung pipit itu?”. Kalimat itu dapat diubah menjadi “Ia memakai baju merah”. Dan seharusnya “Di mana engkau menangkap pipit itu?”.
3.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat. Kata naik bersinonim dengan ke atas. Kata turun bersinonim dengan ke bawah.
Perhatikan kalimat-kalimat berikut, “Dia hanya membawa badannya saja”. Atau “Sejak dari pagi dia bermenung”. Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi “Dia hanya membawa badannya”. Dan seharusnya “Sejak pagi dia bermenung”.
4.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak. Misalnya, “para tamu-tamu para tamu beberapa orang-orang beberapa orang”.


E.     Kecermatan
Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda. Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut.
1.      Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
2.      Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.

Kalimat 1 memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguran tinggi. Sedangkan pada kalimat 2 memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
Perhatikan kalimat berikut, “yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri”. Kalimat ini salah pilihan katanya karena dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritakan. Kalimat itu dapat diubah menjadi “yang diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri”.


F.      Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan ialah pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
1.      Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris. Oleh karena itu, kita hidari kalimat yang panjang dan bertele-tele. Misalnya seperti, “Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak ke luar dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab”.
2.      Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona. Contohnya seperti, “Surat itu saya sudah baca”. Atau juga bisa, “Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan”.
Kalimat di atas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk “Surat itu sudah saya baca”. Dan seharusnya, “Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan”.
3.      Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripad atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Perhatikan kalimat ini “Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat”. Atau seperti ini, “Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat”.
Seharusnya kalimat yang benar adalah “Mereka membicarakan kehendak rakyat”. Atau bisa juga seperti ini, “Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat”.



G.    Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.

Perhatikan kalimat di bawah ini.
1.      Waktu dan tempat kami persilakan.
2.      Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini.
3.      Haryanto Arbi meraih juara pertama Jepang Terbuka.
4.      Hermawan Susanto menduduki juara pertama Cina Terbuka.
5.      Mayat wanita yang ditemukan itu sebelumnya sering mondar-mandir di daerah tersebut.

Kalimat itu tidak logis (tidak masuk akal). Yang logis adalah sebagai berikut.
1.      Bapak Menteri kami persilakan.
2.      Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini.
3.      Haryanto Arbi meraih gelar juara pertama Jepang Terbuka.
4.      Hermawan Susanto menjadi juara pertama Cina Terbuka.
5.      Sebelum meninggal, wanita yang mayatnya ditemukan itu sering mondar-mandir di daerah tersebut.



Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Peristiwa-peristiwa traumatik dapat terjadi dalam kehidupan seseorang tanpa dapat diprediksi sebelumnya dan tanpa adanya persiapan apapun. Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda ketika dihadapkan pada peristiwa traumatik seperti ini. Pada beberapa orang, peristiwa traumatik ini membuatnya menjadi trauma, ia tidak mampu menjalankan kesehariannya seperti biasa (sebelum peristiwa tersebut terjadi), bayangan akan peristiwa tersebut senantiasa kembali dalam ingatannya dan mengusiknya,  ia juga merasa tak mampu mengatasinya. Mereka yang mengalami hal demikian mungkin mengalami apa yang disebut dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Post-traumatic stress disorder (PTSD) can affect those who personally experience the catastrophe, those who witness it, and those who pick up the pieces afterwards, including emergency workers and law enforcement officers. It can even occur in the friends or family members of those who went through the actual trauma (Smith & Segal. 2008).
Post-traumatic stress disorder dapat mempengaruhi mereka yang secara pribadi mengalami bencana atau musibah besar, mereka yang menjadi saksi atas kejadian tersebut, dan mereka yang membantu dalam kejadian tersebut, termasuk pekerja sosial dan petugas keamanan. Bahkan hal ini dapat terjadi di kalangan teman atau kerabat dari orang yang mengalami trauma (Smith & Segal. 2008).
Beberapa sumber mendefinisikan Post Traumatic Stress Disorder sebagai berikut:
Post Traumatic Stress Disorder is an anxiety disorder that can develop after exposure to a terrifying event or ordeal in which grave physical harm occurred or was threatened (American Psychological Association, 2004).
Post Traumatic Stress Disorder adalah gangguan kecemasan yang dapat terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang menakutkan/mengerikan, sulit dan tidak menyenangkan dimana terdapat penganiayaan fisik atau perasaan terancam (American Psychological Association, 2004).   
 Post-traumatic stress disorder (PTSD) is a disorder that can develop following a traumatic event that threatens your safety or makes you feel helpless (Smith & Segal, 2008).
Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah sebuah gangguan yang dapat terbentuk dari peristiwa traumatik yang mengancam keselamatan anda atau membuat anda merasa tidak berdaya (Smith & Segal, 2008).
Peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai peristiwa traumatik pada umumnya mengandung tiga buah elemen sebagai berikut (Jaffe, Segal, & Dumke, 2005):
1.     Kejadian tersebut tidak dapat diprediksi (It was unexpected)
2.     Orang yang mengalami kejadian tersebut tidak siap dihadapkan pada kondisi / kejadian demikian (The person was unprepared)
3.     Tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang tersebut untuk mencegah terjadinya peristiwa tersebut (There was nothing the person could do to prevent it from happening)

... any overwhelming life experience can trigger PTSD, especially if the event is perceived as unpredictable and uncontrollable (Smith & Segal. 2008).

... pengalaman hidup apapun yang terlalu "mengguncang" dapat memicu PTSD, terutama jika peristiwa tersebut dilihat sebagai sesuatu yang tidak dapat diduga dan dikendalikan / dikontrol (Smith & Segal. 2008).

Smith & Segal menyebutkan peristiwa traumatik yang dapat mengarah kepada munculnya PTSD termasuk:
  • Perang (War)
  • Pemerkosaan (Rape)
  • Bencana alam (Natural disasters)
  • Kecelakaan mobil / Pesawat (A car or plane crash)
  • Penculikan (Kidnapping)
  • Penyerangan fisik (Violent assault)
  • Penyiksaan seksual / fisik (Sexual or physical abuse)
  • Prosedur medikal - terutama pada anak-anak (Medical procedures - especially in kids)

Selama bertahun-tahun penelitian, 17 gejala / simptom PTSD telah dapat diidentifikasi. Simptom-simptom tersebut ditulis dalam the 4th edition of the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV). Ke-17 simptom tersebut dibagi kedalam tiga kelompok besar. Ketiga kelompok tersebut, dan simptom-simptom spesifik yang ada di dalamnya dijelaskan di bawah ini:
1.      Merasakan kembali peristiwa traumatik tersebut  (Re-Experiencing Symptoms)
  • Secara berkelanjutan memiliki pikiran atau ingatan yang tidak menyenangkan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Frequently having upsetting thoughts or memories about a traumatic event).
  • Mengalami mimpi buruk yang terus menerus berulang (Having recurrent nightmares).
  • Bertindak atau merasakan seakan-akan peristiwa traumatik tersebut akan terulang kembali, terkadang ini disebut sebagai "flashback" (Acting or feeling as though the traumatic event were happening again, sometimes called a "flashback").
  • Memiliki perasaan menderita yang kuat ketika teringat kembali peristiwa traumatik tersebut (Having very strong feelings of distress when reminded of the traumatic event).
  • Terjadi respon fisikal, seperti jantung berdetak kencang  atau berkeringat ketika teringat akan peristiwa traumatik tersebut (Being physically responsive, such as experiencing a surge in your heart rate or sweating, to reminders of the traumatic event).
2.      Menghindar (Avoidance Symptoms)
  • Berusaha keras untuk menghindari pikiran, perasaan atau pembicaraan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid thoughts, feelings, or conversations about the traumatic event).
  • Berusaha keras untuk menghindari tempat atau orang-orang yang dapat mengingatkan kembali akan peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid places or people that remind you of the traumatic event).
  • Sulit untuk mengingat kembali bagian penting dari peristiwa traumatik tersebut (Having a difficult time remembering important parts of the traumatic event).
  • Kehilangan ketertarikan atas aktifitas positif yang penting (A loss of interest in important, once positive, activities).
  • Merasa "jauh" atau seperti ada jarak dengan orang lain (Feeling distant from others).
  • Mengalami kesulitan untuk merasakan perasaan-perasaan positif, seperti kesenangan / kebahagiaan atau cinta / kasih sayang ( Experiencing difficulties having positive feelings, such as happiness or love).
  • Merasakan seakan-akan hidup anda seperti terputus ditengah-tengah - anda tidak berharap untuk dapat kembali menjalani hidup dengan normal, menikah dan memiliki karir  (Feeling as though your life may be cut short - you don’t expect to live a normal life span, get married, have a career).
3.      “Waspada” (Hyperarousal Symptoms)
  • Sulit untuk tidur atau tidur tapi dengan gelisah (Having a difficult time falling or staying asleep).
  • Mudah / lekas marah atau meledak-ledak (Feeling more irritable or having outbursts of anger).
  • Memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi (Having difficulty concentrating).
  • Selalu merasa seperti sedang diawasi atau merasa seakan-akan bahaya mengincar di setiap sudut "Feeling constantly "on guard" or like danger is lurking around every corner".
  • Menjadi gelisah, tidak tenang, atau mudah "terpicu" / sangat "waspada" (Being "jumpy" or easily startled).
Apakah anda membutuhkan semua simptom ini untuk diagnosa PTSD?
Untuk di-diagnosa mengalami PTSD, seseorang tidak perlu memiliki semua simptom di atas. Dalam faktanya, sangat jarang seseorang dengan PSTD mengalami seluruh simptom yang tertulis diatas. Untuk di-diagnosa mengalami PTSD, seseorang hanya perlu beberapa simptom dari setiap kelompok. Dan tentunya persyaratan tambahan untuk diagnosa PTSD juga perlu dites, seperti bagaimana seseorang merespon peristiwa traumatik tersebut, berapa lama simptom tersebut dialami, dan seberapa luas simptom tersebut mempengaruhi kehidupannya.